Tuberkulosis (TB) Paru pada Dewasa (4A)
Tuberkulosis (TB) Paru pada Dewasa (4A)
Masalah Kesehatan
Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular langsung yang
disebabkan oleh kuman TB yaitu Mycobacterium
tuberkulosis. Sebagian besar kuman TB menyerang paru, namun dapat juga
mengenai organ tubuh lainnya. Indonesia merupakan negara yang termasuk sebagai
5 besar dari 22 negara di dunia dengan beban TB. Kontribusi TB di Indonesia
sebesar 5,8%. Saat ini timbul kedaruratan baru dalam penanggulangan TB, yaitu
TB Resisten Obat (Multi Drug Resistance/
MDR).
Hasil Anamnesis (Subjective)
Suspek TB adalah seseorang dengan
gejala atau tanda TB.
Gejala umum TB Paru adalah batuk
produktif lebih dari 2 minggu, yang disertai:
1.
Gejala pernapasan (nyeri dada, sesak napas, hemoptisis)
dan/atau
2.
Gejala sistemik (demam, tidak nafsu makan, penurunan
berat badan, keringat malam dan mudah lelah).
Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang
Sederhana (Objective)
Pemeriksaan Fisik
Kelainan pada TB Paru tergantung luas kelainan struktur
paru. Pada awal permulaan perkembangan penyakit umumnya sulit sekali menemukan
kelainan. Pada auskultasi terdengar suara napas bronkhial/amforik/ronkhi
basah/suara napas melemah di apex paru, tanda-tanda penarikan paru, diafragma
dan mediastinum.
Pemeriksaan Penunjang
1.
Darah: limfositosis/ monositosis, LED meningkat, Hb
turun.
2.
Pemeriksaan mikroskopis kuman TB (Bakteri Tahan
Asam/BTA) atau kultur kuman dari spesimen sputum/dahak
sewaktu-pagi-sewaktu.
3.
Untuk TB non paru, spesimen dapat diambil dari bilas
lambung, cairan serebrospinal, cairan pleura ataupun biopsi jaringan.
4.
Radiologi dengan foto toraks PA-Lateral/ top
lordotik.
Pada TB, umumnya di apeks paru terdapat gambaran
bercak-bercak awan dengan batas yang tidak jelas atau bila dengan batas jelas
membentuk tuberkuloma. Gambaran lain yang dapat menyertai yaitu, kavitas (bayangan
berupa cincin berdinding tipis), pleuritis (penebalan pleura), efusi pleura
(sudut kostrofrenikus tumpul).
Penegakan Diagnosis (Assessment)
Diagnosis Pasti TB
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan
fisis dan pemeriksaan penunjang (sputum untuk dewasa, tes tuberkulin pada
anak).
Kriteria Diagnosis
Berdasarkan International Standards for Tuberkulosis
Care (ISTC 2014)
Standar Diagnosis
1.
Untuk memastikan diagnosis lebih awal, petugas
kesehatan harus waspada terhadap individu dan grup dengan faktor risiko TB
dengan melakukan evaluasi klinis dan pemeriksaaan diagnostik yang tepat pada
mereka dengan gejala TB.
2.
Semua pasien dengan batuk produktif yang berlangsung
selama ≥ 2 minggu yang tidak jelas penyebabnya, harus dievaluasi untuk TB.
3.
Semua pasien yang diduga menderita TB dan mampu
mengeluarkan dahak, harus diperiksa mikroskopis spesimen apusan sputum/dahak
minimal 2 kali atau 1 spesimen sputum untuk pemeriksaan Xpert MTB/RIF*, yang
diperiksa di laboratorium yang kualitasnya terjamin, salah satu diantaranya
adalah spesimen pagi. Pasien dengan risiko resistensi obat, risiko HIV atau
sakit parah sebaiknya melakukan pemeriksan Xpert MTB/RIF* sebagai uji
diagnostik awal. Uji serologi darah dan interferongamma
release assay sebaiknya tidak digunakan untuk mendiagnosis TB aktif.
4.
Semua pasien yang diduga tuberkulosis ekstra paru,
spesimen dari organ yang terlibat harus diperiksa secara mikrobiologis dan
histologis. Uji Xpert MTB/RIF direkomendasikan sebagai pilihan uji
mikrobiologis untuk pasien terduga meningitis karena membutuhkan penegakan
diagnosis yang cepat.
5.
Pasien terduga TB dengan apusan dahak negatif,
sebaiknya dilakukan pemeriksaan Xpert MTB/RIF dan/atau kultur dahak. Jika
apusan dan uji Xpert MTB/RIF* negatif pada pasien denga gejala klinis yang
mendukung TB, sebaiknya segera diberikan pengobatan anti tuberkulosis setelah
pemeriksaan kultur.
Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)
Penatalaksanaan
Tujuan pengobatan:
1. Menyembuhkan,
mengembalikan kualitas hidup dan produktivitas pasien.
2. Mencegah
kematian akibat TB aktif atau efek lanjutan.
3. Mencegah
kekambuhan TB.
4. Mengurangi
penularan TB kepada orang lain.
5. Mencegah
terjadinya resistensi obat dan penularannya
Prinsip-prinsip terapi:
1. Obat
Anti Tuberkulosis (OAT) harus diberikan dalam bentuk kombinasi dari beberapa
jenis obat, dalam jumlah cukup dan dosis tepat sesuai dengan kategori
pengobatan. Hindari penggunaan monoterapi.
2. Pemakaian
OAT-Kombinasi Dosis Tepat (KDT) / Fixed
Dose Combination (FDC) akan lebih
menguntungkan dan dianjurkan.
3. Obat
ditelan sekaligus (single dose) dalam
keadaan perut kosong.
4. Setiap
praktisi yang mengobati pasien tuberkulosis mengemban tanggung jawab kesehatan
masyarakat.
5. Semua
pasien (termasuk mereka yang terinfeksi HIV) yang belum pernah diobati harus
diberi paduan obat lini pertama.
6. Untuk
menjamin kepatuhan pasien berobat hingga selesai, diperlukan suatu pendekatan
yang berpihak kepada pasien (patient
centered approach) dan dilakukan dengan pengawasan langsung (DOT= directly observed treatment) oleh
seorang pengawas menelan obat.
7. Semua
pasien harus dimonitor respons pengobatannya. Indikator penilaian terbaik
adalah pemeriksaan dahak berkala yaitu pada akhir tahap awal, bulan ke-5 dan
akhir pengobatan.
8.
Rekaman tertulis tentang pengobatan, respons
bakteriologis dan efek samping harus tercatat dan tersimpan.
Tabel 1.1 Dosis obat antituberkulosis KDT/FDC
|
Berat Badan
|
Fase Intensif
|
Fase Lanjutan
|
|||
|
|
Harian
(R/H/Z/E)
150/75/400/275
|
Harian
(R/H/Z)
150/75/40
|
3x/minggu
(R/H/Z)
150/150/500
|
Harian
(R/H)
150/75
|
3x/minggu
(R/H)
150/150
|
|
30-37
|
2
|
2
|
2
|
2
|
2
|
|
38-54
|
3
|
3
|
3
|
3
|
3
|
|
55-70
|
4
|
4
|
4
|
4
|
4
|
|
>71
|
5
|
5
|
5
|
5
|
5
|
Tabel 1.2 Dosis obat TB
berdasarkan berat badan (BB)
|
Rekomendasi dosis
dalam mg/kgBB
|
||
|
Obat
|
Harian
|
3x seminggu
|
|
INH
|
5 (4-6) max
300mg/hr
|
10 (8-12) max 900
mg/dosis
|
|
RIF
|
10 (8-12) max 600
mg/hr
|
10 (8-12) max 600
mg/dosis
|
|
PZA
|
25 (20-30) max
1600 mg/hr
|
35 (30-40) max
2400 mg/dosis
|
|
EMB
|
15 (15-20) max
1600 mg/hr
|
30 (25-35 max 2400
mg/dosis
|
Pengobatan TB diberikan dalam 2
tahap, yaitu tahap awal dan lanjutan
1.
Tahap awal menggunakan paduan obat rifampisin,
isoniazid, pirazinamid dan etambutol.
a.
Pada tahap awal pasien mendapat pasien yang
terdiri dari 4 jenis obat (rifampisin,
isoniazid, pirazinamid dan etambutol), diminum setiap hari dan diawasi secara
langsung untuk menjamin kepatuhan minum obat dan mencegah terjadinya kekebalan
obat.
b.
Bila pengobatan tahap awal diberikan secara adekuat,
daya penularan menurun dalam kurun waktu 2 minggu.
c.
Pasien TB paru BTA positif sebagian besar menjadi BTA
negatif (konversi) setelah menyelesaikan pengobatan tahap awal. Setelah terjadi
konversi pengobatan dilanujtkan dengan tahap lanjut.
2.
Tahap lanjutan menggunakan paduan obat rifampisin dan
isoniazid
a.
Pada tahap lanjutan pasien mendapat 2 jenis obat
(rifampisin dan isoniazid), namun dalam jangka waktu yg lebih lama (minimal 4
bulan).
b.
Obat dapat diminum secara intermitten yaitu 3x/minggu
(obat program) atau tiap hari (obat non program).
c.
Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persisten
sehingga mencegah terjadinya kekambuhan.
Panduan OAT lini pertama yang
digunakan oleh Program Nasional
Pengendalian Tuberkulosis di
Indonesia adalah sebagai berikut :
1. Kategori
1 : 2HRZE/4H3R3
Artinya pengobatan tahap awal selama 2 bulan diberikan
tiap hari dan tahap lanjutan selama 4 bulan diberikan 3 kali dalam seminggu.
Jadi lama pengobatan seluruhnya 6 bulan.
2. Kategori
2 : 2HRZES/HRZE/5H3R3E3
Diberikan pada TB paru pengobatan ulang (TB kambuh, gagal
pengobatan, putus berobat/default). Pada kategori 2, tahap awal pengobatan
selama 3 bulan terdiri dari 2 bulan RHZE ditambah suntikan streptomisin, dan 1
bulan HRZE. Pengobatan tahap awal diberikan setiap hari. Tahap lanjutan
diberikan HRE selama 5 bulan, 3 kali seminggu. Jadi lama pengobatan 8 bulan.
3. OAT
sisipan : HRZE
Apabila pemeriksaan dahak masih positif (belum konversi)
pada akhir pengobatan tahap awal kategori 1 maupun kategori 2, maka diberikan
pengobatan sisipan selama 1 bulan dengan HRZE.
Konseling dan Edukasi
1.
Memberikan informasi kepada pasien dan keluarga tentang
penyakit tuberkulosis
2.
Pengawasan ketaatan minum obat dan kontrol secara
teratur.
3.
Pola hidup sehat dan sanitasi lingkungan
Kriteria Rujukan
1.
Pasien dengan sputum BTA (-), klinis (+) tapi tidak
menunjukkan perbaikan setelah pengobatan dalam jangka waktu tertentu
2.
Pasien dengan sputum BTA (-), klinis (-/
meragukan)
3.
Pasien dengan sputum BTA tetap (+) setelah jangka waktu
tertentu 4. TB dengan komplikasi/keadaan
khusus (TB dengan komorbid) 5. Suspek TB
– MDR harus dirujuk ke pusat rujukan TB-MDR.
Peralatan
1.
Laboratorium untuk pemeriksaan sputum, darah rutin.
2.
Radiologi
3.
Uji Gen Xpert-Rif Mtb jika fasilitas tersedia
Prognosis
Prognosis pada umumnya baik apabila pasien melakukan
terapi sesuai dengan ketentuan pengobatan. Untuk TB dengan komorbid, prognosis
menjadi kurang baik.
Kriteria hasil pengobatan:
1.
Sembuh: pasien telah menyelesaikan pengobatannya secara
lengkap dan pemeriksaan apusan dahak ulang (follow
up), hasilnya negatif pada foto toraks AP dan pada satu pemeriksaan
sebelumnya.
2.
Pengobatan lengkap: pasien yang telah menyelesaikan
pengobatannya secara lengkap tetapi tidak ada hasil pemeriksaan apusan dahak
ulang pada foto toraks AP dan pada satu pemeriksaan sebelumnya.
3.
Meninggal: pasien yang meninggal dalam masa pengobatan
karena sebab apapun.
4.
Putus berobat (default): pasien yang tidak berobat 2
bulan berturut-turut atau lebih sebelum masa pengobatannya selesai.
5.
Gagal: Pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap
positif atau kembali menjadi positif pada bulan ke lima atau selama pengobatan.
6.
Pindah (transfer
out): pasien yang dipindah ke unit pencatatan dan pelaporan (register) lain dan hasil pengobatannya
tidak diketahui.
Referensi
1.
Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. Tuberkulosis. PDPI.
Jakarta. 2011. (Perhimpunan Dokter Paru
Indonesia, 2011)
2.
Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan
Penyehatan Lingkungan. Pedoman
nasional pengendalian tuberkulosis. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
2011. (Direktorat Jenderal Pengendalian
Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, 2011)
3.
Panduan tata laksana tuberkulosis sesuai ISTC dengan
strategi DOTS untuk praktik dokter swasta (DPS). Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia dan Ikatan DOkter Indonesia. Jakarta. 2012. (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia,
2012)
4.
Tuberkulosis Coalition for Technical Assistance.
International standards for tuberkulosis tare (ISTC). 3nd Ed. Tuberkulosis Coalition for
Technical Assistance. The Hague. 2014.
(Tuberculosis Coalition for Technical Assistance , 2014)
5.
Braunwald, E. Fauci, A.S. Kasper, D.L. Hauser, S.L. et
al. Mycobacterial
th disease: Tuberkulosis.
Harrisson’s: principle of internal medicine. 17 Ed. New York: McGraw-Hill
Companies. 2009: hal. 1006 - 1020.
(Braunwald, et al., 2009)
Comments
Post a Comment