TB dengan HIV (3A)
TB dengan HIV (3A)
Masalah Kesehatan
TB meningkatkan progresivitas HIV
karena penderita TB dan HIV sering mempunyai kadar jumlah virus HIV yang
tinggi. Pada keadaan koinfeksi terjadi penurunan imunitas lebih cepat dan
pertahanan hidup lebih singkat walaupun pengobatan TB berhasil. Penderita
TB/HIV mempunyai kemungkinan hidup lebih singkat dibandingkan penderita HIV
yang tidak pernah kena TB. Obat antivirus HIV (ART) menurunkan tingkat kematian pada pasien TB/HIV.
Hasil Anamnesis (Subjective)
Batuk tidak merupakan gejala utama pada pasien TB dengan
HIV. Pasien diindikasikan untuk pemeriksaan HIV jika :
1.
Berat badan turun drastis
2.
Sariawan/Stomatitis berulang
3.
Sarkoma Kaposi
4.
Riwayat perilaku risiko tinggi seperti
a.
Pengguna NAPZA suntikan
b.
Homoseksual
c.
Waria
d.
Pekerja seks
e.
Pramuria panti pijat
Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective)
Pemeriksaan Fisik
Kelainan pada TB Paru tergantung
luas kelainan struktur paru. Pada awal permulaan perkembangan penyakit umumnya
sulit sekali menemukan kelainan.
Pemeriksaan Penunjang
1.
Pemeriksaan darah lengkap dapat dijumpai
limfositosis/ monositosis, LED meningkat, Hb turun.
2.
Pemeriksaan mikroskopis kuman TB (Bakteri Tahan
Asam/ BTA) atau kultur kuman dari spesimen sputum/ dahak
sewaktu-pagi-sewaktu.
3.
Untuk TB non paru, spesimen dapat diambil dari
bilas lambung, cairan serebrospinal, cairan pleura ataupun biopsi jaringan.
4.
Radiologi dengan foto toraks PA-Lateral/ top
lordotik.
5.
Pemeriksaan kadar CD4.
6.
Uji anti-HIV
Penegakan Diagnostik (Assessment)
Pada daerah dengan angka
prevalensi HIV yang tinggi pada populasi dengan kemungkinan koinfeksi TB-HIV
maka konseling dan pemeriksaan HIV diindikasikan untuk seluruh pasien TB
sebagai bagian dari penatalaksanaan rutin. Pada daerah dengan prevalensi HIV
yang rendah, konseling dan pemeriksaan HIV diindikasi pada pasien TB dengan
keluhan dan tanda-tanda yang diduga berhubungan dengan HIV dan pada pasien TB
dengan riwayat risiko terpajan HIV.
Tabel 1.5 Gambaran TB-HIV
|
|
Infeksi dini
(CD4 > 200/mm3)
|
Infeksi lanjut
(CD4 < 200/mm3)
|
|
Dahak mikroskopis
|
Sering positif
|
Sering negatif
|
|
TB ekstraparu
|
Jarang
|
Umum/banyak
|
|
Mikobakterimia
|
Tidak ada
|
Ada
|
|
Tuberkulin
|
Positif
|
Negatif
|
|
Foto toraks
|
Reaktivasi TB, kavitas di puncak
|
Tipikal primer TB milier/
interstisial
|
|
Adenopati hilus/mediastinum
|
Tidak ada
|
Ada
|
|
Efusi pleura
|
Tidak ada
|
Ada
|
Diagnosis Banding
1.
Kriptokokokis
2.
Pneumocystic carinii pneumonia (PCP)
3.
Aspergillosis
Komplikasi
1.
Limfadenopati
2.
Efusi pleura
3.
Penyakit perikardial
4.
TB Milier
5.
Meningitis TB
Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)
Penatalaksanaan
1.
Pada dasarnya pengobatannya sama dengan
pengobatan TB tanpa HIV/AIDS
2.
Prinsip pengobatan adalah menggunakan kombinasi
beberapa jenis obat dalam jumlah cukup dan dosis serta jangka waktu yang tepat.
3.
Pasien dengan koinfeksi TB-HIV, segera diberikan
OAT dan pemberian ARV dalam 8 minggu pemberian OAT tanpa mempertimbangkan kadar
CD4.
4.
Perlu diperhatikan, pemberian secara bersamaan
membuat pasien menelan obat dalam jumlah yang banyak sehingga dapat terjadi
ketidakpatuhan, komplikasi, efek samping, interaksi obat dan Immune Reconstitution Inflammatory Syndrome.
5.
Setiap penderita TB-HIV harus diberikan
profilaksis kotrimoksasol dengan dosis 960 mg/hari (dosis tunggal) selama
pemberian OAT.
6.
Pemberian tiasetazon pada pasien HIV/AIDS sangat
berbahaya karena akan menyebabkan efek toksik berat pada kulit.
7.
Injeksi streptomisin hanya boleh diberikan jika
tersedia alat suntik sekali pakai yang steril.
8.
Desensitisasi obat (INH/Rifampisin) tidak boleh
dilakukan karena mengakibatkan efek toksik yang serius pada hati.
9.
Pada pasien TB dengan HIV/AIDS yang tidak memberi respons terhadap
pengobatan, selain dipikirkan terdapatnya malabsorbsi obat. Pada pasien
HIV/AIDS terdapat korelasi antara imunosupresi yang berat dengan derajat penyerapan,
karenanya dosis standar yang diterima suboptimal sehingga konsentrasi obat
rendah dalam serum.
Konseling dan Edukasi
Konseling dilakukan pada pasien yang dicurigai HIV dengan
merujuk pasien ke pelayanan VCT (Voluntary
Counceling and Testing).
Kriteria Rujukan
1.
Pasien dengan sputum BTA (-), klinis (+) tapi
tidak menunjukkan perbaikan setelah pengobatan dalam jangka waktu tertentu
2.
Pasien dengan sputum BTA (-), klinis (-/
meragukan)
3.
Pasien dengan sputum BTA tetap (+) setelah
jangka waktu tertentu
4.
TB dengan komplikasi/keadaan khusus (TB dengan
komorbid)
5.
Suspek TB–MDR harus dirujuk ke pusat rujukan
TB–MDR .
Peralatan
1.
Laboratorium untuk pemeriksaan sputum, darah
rutin
2.
Mantoux
test
3.
Radiologi
Prognosis
Prognosis pada umumnya baik apabila
pasien melakukan terapi sesuai dengan ketentuan pengobatan. Untuk TB dengan
komorbid, prognosis menjadi kurang baik.
Referensi
1.
Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. Tuberkulosis.
PDPI. Jakarta. 2011.
2.
Panduan Tata laksana Tuberkuloasis ISTC dengan strategi
DOTS unutk Praktek Dokter Swasta (DPS), oleh Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia dan Ikatan Dokter Indonesia Jakarta 2012.
Comments
Post a Comment