Keracunan Makanan (4A)
Keracunan Makanan (4A)
Masalah Kesehatan
Keracunan makanan merupakan
suatu kondisi gangguan pencernaan yang disebabkan oleh konsumsi makanan atau
air yang terkontaminasi dengan zat patogen dan atau bahan kimia, misalnya Norovirus, Salmonella, Clostridium
perfringens, Campylobacter, dan
Staphylococcus aureus.
Hasil Anamnesis (Subjective)
Keluhan
1.
Diare akut.
Pada keracunan makanan biasanya berlangsung
kurang dari 2 minggu.
Darah atau lendir pada tinja; menunjukkan
invasi mukosa usus atau kolon.
2.
Nyeri perut.
3.
Nyeri kram otot perut; menunjukkan hilangnya elektrolit
yang mendasari, seperti pada kolera yang berat.
4.
Kembung.
Faktor Risiko
1.
Riwayat makan/minum di tempat yang tidak higienis
2.
Konsumsi daging/unggas yang kurang matang dapat
dicurigai untuk Salmonella spp, Campylobacter spp, toksin Shiga E coli, dan Clostridium perfringens.
3.
Konsumsi makanan laut mentah dapat dicurigai untuk Norwalk-like virus, Vibrio spp, atau
hepatitis A.
Hasil Pemeriksaan Fisik dan
Penunjang Sederhana (Objective )
Pemeriksaan
Fisik Patognomonis
Pemeriksaan
fisik harus difokuskan untuk menilai keparahan dehidrasi.
1.
Diare, dehidrasi, dengan tanda–tanda tekanan darah
turun, nadi cepat, mulut kering, penurunan keringat, dan penurunan output urin.
2.
Nyeri tekan perut, bising usus meningkat atau melemah.
Pemeriksaan
Penunjang
1.
Lakukan pemeriksaan mikroskopis dari feses untuk telur
cacing dan parasit.
2.
Pewarnaan Gram, Koch dan metilen biru Loeffler untuk
membantu membedakan penyakit invasif dari penyakit non-invasif.
Penegakan Diagnostik (Assessment)
Diagnosis
Klinis
Diagnosis ditegakkan
berdasar anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang.
Diagnosis
Banding
1.
Intoleransi
2.
Diare spesifik seperti disentri, kolera dan lain-lain.
Komplikasi
Dehidrasi
berat
Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)
Penatalaksanaan
1.
Karena sebagian besar kasus gastroenteritis akut adalah
self-limiting, pengobatan khusus
tidak diperlukan. Dari beberapa studi didapatkan bahwa hanya 10% kasus
membutuhkan terapi antibiotik. Tujuan utamanya adalah rehidrasi yang cukup dan
suplemen elektrolit. Hal ini dapat dicapai dengan pemberian cairan rehidrasi
oral (oralit) atau larutan intravena (misalnya, larutan natrium klorida
isotonik, larutan Ringer Laktat). Rehidrasi oral dicapai dengan pemberian
cairan yang mengandung natrium dan glukosa. Obat absorben (misalnya,
kaopectate, aluminium hidroksida) membantu memadatkan feses diberikan bila
diare tidak segera berhenti. Diphenoxylate dengan atropin (Lomotil) tersedia
dalam tablet (2,5 mg diphenoxylate) dan cair (2,5 mg diphenoxylate / 5 mL).
Dosis awal untuk orang dewasa adalah 2 tablet 4 kali sehari (20 mg / d),
digunakan hanya bila diare masif.
2.
Jika gejalanya menetap setelah 3-4 hari, etiologi
spesifik harus ditentukan dengan melakukan kultur tinja. Untuk itu harus segera
dirujuk.
3.
Modifikasi gaya hidup dan edukasi untuk menjaga
kebersihan diri.
Konseling
dan Edukasi
Edukasi kepada keluarga
untuk turut menjaga higiene keluarga dan pasien.
Kriteria
Rujukan
1.
Gejala keracunan tidak berhenti setelah 3 hari
ditangani dengan adekuat.
2.
Pasien mengalami perburukan.
Dirujuk
ke pelayanan kesehatan sekunder dengan spesialis penyakit dalam atau spesialis
anak.
Peralatan
1.
Cairan rehidrasi (NaCl 0,9%, RL, oralit )
2.
Infus set
3.
Antibiotik bila diperlukan
Prognosis
Prognosis
umumnya bila pasien tidak mengalami komplikasi adalah bonam.
Referensi
1.
Panduan
Pelayanan Medik. PAPDI.
2.
Panduan
Puskesmas untuk keracunan makanan. Depkes: Jakarta. 2007.
(Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia, 2007)
Comments
Post a Comment