Filariasis (4A)
Filariasis (4A)
Masalah Kesehatan
Filariasis
(Penyakit Kaki Gajah) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh cacing
Filaria yang ditularkan oleh berbagai jenis nyamuk. Penyakit ini bersifat
menahun (kronis) dan bila tidak mendapatkan pengobatan dapat menimbulkan cacat
menetap berupa pembesaran kaki, lengan dan alat kelamin baik perempuan maupun
laki-laki.
WHO sudah
menetapkan Kesepakatan Global untuk mengeliminasi filariasis pada tahun 2020 (The Global Goal of Elimination of Lymphatic
Filariasis as a Public Health problem by The Year 2020). Program eliminasi
dilaksanakan melalui pengobatan massal dengan DEC dan Albendazol setahun sekali
selama 5 tahun di lokasi yang endemis serta perawatan kasus klinis baik yang
akut maupun kronis untuk mencegah kecacatan dan mengurangi penderitaannya.
Indonesia
melaksanakan eliminasi penyakit kaki gajah secara bertahap yang telah dimulai
sejak tahun 2002 di 5 kabupaten. Perluasan wilayah akan dilaksanakan setiap
tahun.
Penyakit kaki
gajah disebabkan oleh tiga spesies cacing filaria, yaitu: Wucheria bancrofti, Brugia malayi dan Brugia timori. Vektor penular di Indonesia hingga saat ini telah
diketahui ada 23 spesies nyamuk dari genus Anopheles, Culex, Mansonia, Aedes,
dan Armigeres yang dapat berperan sebagai vektor penular penyakit kaki gajah.
Hasil Anamnesis (Subjective)
Keluhan
Gejala filariasis bancrofti sangat berbeda dari satu daerah endemik dengan daerah
endemik lainnya. Hal ini mungkin disebabkan oleh perbedaan intensitas paparan
terhadap vektor infektif di daerah endemik tersebut.
Manifestasi akut, berupa:
1.
Demam berulang ulang selama 3-5 hari. Demam
dapat hilang bila istirahat dan timbul lagi setelah bekerja berat.
2.
Pembengkakan kelenjar getah bening (tanpa ada
luka) di daerah lipatan paha, ketiak (lymphadentitis) yang tampak kemerahan,
panas, dan sakit.
3.
Radang saluran kelenjar getah bening yang terasa
panas dan sakit menjalar dari pangkal kaki atau pangkal lengan ke arah ujung (retrograde lymphangitis).
4.
Filarial abses akibat seringnya menderita
pembengkakan kelenjar getah bening, dapat pecah dan mengeluarkan nanah serta
darah.
5.
Pembesaran tungkai, lengan, buah dada, kantong
zakar yang terlihat agak kemerahan dan terasa panas (Early Imphodema).
Manifestasi
kronik, disebabkan oleh berkurangnya fungsi saluran limfe terjadi beberapa
bulan sampai bertahun-tahun dari episode akut. Gejala kronis filariasis berupa:
pembesaran yang menetap (elephantiasis)
pada tungkai, lengan, buah dada, buah zakar (elephantiasis skroti) yang disebabkan oleh adanya cacing dewasa
pada sistem limfatik dan oleh reaksi hiperresponsif berupa occult filariasis.
Perjalanan penyakit tidak jelas
dari satu stadium ke stadium berikutnya tetapi bila diurut dari masa inkubasi
maka dapat dibagi menjadi:
1.
Masa prepaten, yaitu masa antara masuknya larva
infektif hingga terjadinya mikrofilaremia berkisar antara 37 bulan. Hanya
sebagian saja dari penduduk di daerah endemik yang menjadi mikrofilaremik, dan
dari kelompok mikrofilaremik ini pun tidak semua kemudian menunjukkan gejala
klinis. Terlihat bahwa kelompok ini termasuk kelompok yang asimptomatik
amikrofilaremik dan asimptomatik mikrofilaremik.
2.
Masa inkubasi, masa antara masuknya larva
infektif sampai terjadinya gejala klinis berkisar antara 8 – 16 bulan.
3.
Gejala klinik akut merupakan limfadenitis dan
limfangitis disertai panas dan malaise. Kelenjar yang terkena biasanya
unilateral. Penderita dengan gejala klinis akut dapat amikrofilaremik maupun
mikrofilaremik.
4.
Gejala menahun, terjadi 10 – 15 tahun setelah
serangan akut pertama. Mikrofilaria jarang ditemukan pada stadium ini,
sedangkan adenolimfangitis masih dapat terjadi. Gejala menahun ini menyebabkan
terjadinya cacat yang mengganggu aktivitas penderita serta membebani
keluarganya.
Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang
Sederhana (Objective)
Pemeriksaan Fisik
Pada
manifestasi akut dapat ditemukan adanya limfangitis dan limfadenitis yang
berlangsung 3 – 15 hari, dan dapat terjadi beberapa kali dalam setahun.
Limfangitis akan meluas kedaerah distal dari kelenjar yang terkena tempat
cacing ini tinggal. Limfangitis dan limfadenitis berkembang lebih sering di
ekstremitas bawah daripada atas. Selain pada tungkai, dapat mengenai alat
kelamin, (tanda khas infeksi W.bancrofti)
dan payudara.
Manifestasi kronik, disebabkan oleh
berkurangnya fungsi saluran limfe. Bentuk manifestasi ini dapat terjadi dalam
beberapa bulan sampai bertahun-tahun dari episode akut. Tanda klinis utama
yaitu hidrokel, limfedema, elefantiasis dan chyluria
yang meningkat sesuai bertambahnya usia.
Manifestasi genital di banyak daerah
endemis, gambaran kronis yang terjadi adalah hidrokel. Selain itu dapat
dijumpai epedidimitis kronis, funikulitis, edema karena penebalan kulit
skrotum, sedangkan pada perempuan bisa dijumpai limfedema vulva. Limfedema dan
elefantiasis ekstremitas, episode limfedema pada ekstremitas akan menyebabkan
elefantiasis di daerah saluran limfe yang terkena dalam waktu bertahun-tahun.
Lebih sering terkena ekstremitas bawah. Pada W.bancrofti, infeksi di daerah paha dan ekstremitas bawah sama
seringnya, sedangkan B.malayi hanya
mengenai ekstremitas bawah saja.
Pada keadaan akut infeksi filariasis bancrofti, pembuluh limfe alat kelamin
lakilaki sering terkena, disusul funikulitis, epididimitis, dan orkitis.
Adenolimfangitis inguinal atau aksila, sering bersama dengan limfangitis
retrograd yang umumnya sembuh sendiri dalam 3 –15 hari dan serangan terjadi
beberapa kali dalam setahun. Pada filariasis brugia, limfadenitis paling sering mengenai kelenjar inguinal,
sering terjadi setelah bekerja keras. Kadang-kadang disertai limfangitis
retrograd. Pembuluh limfe menjadi keras dan nyeri dan sering terjadi limfedema
pada pergelangan kaki dan kaki. Penderita tidak mampu bekerja selama beberapa
hari. Serangan dapat terjadi 12 x/tahun sampai beberapa kali per bulan.
Kelenjar limfe yang terkena dapat menjadi abses, memecah, membentuk ulkus dan
meninggalkan parut yang khas, setelah 3 minggu sampai 3 bulan.
Pada kasus
menahun filariasis bancrofti,
hidrokel paling banyak ditemukan. Limfedema dan elefantiasis terjadi di seluruh
tungkai atas, tungkai bawah, skrotum, vulva atau buah dada, dan ukuran
pembesaran di tungkai dapat 3 kali dari ukuran asalnya. Chyluria terjadi tanpa
keluhan, tetapi pada beberapa penderita menyebabkan penurunan berat badan dan
kelelahan. Filariasis brugia,
elefantiasis terjadi di tungkai bawah di bawah lutut dan lengan bawah, dan
ukuran pembesaran ektremitas tidak lebih dari 2 kali ukuran asalnya.
Pemeriksaan Penunjang
1.
Identifikasi mikrofilaria dari sediaan darah.
Cacing filaria dapat ditemukan dengan pengambilan darah tebal atau tipis pada
waktu malam hari antara jam 10 malam sampai jam 2 pagi yang dipulas dengan
pewarnaan Giemsa atau Wright. Mikrofilaria juga dapat ditemukan pada cairan
hidrokel atau cairan tubuh lain (sangat jarang).
2.
Pemeriksaan darah tepi terdapat leukositosis
dengan eosinofilia sampai 10-30% dengan pemeriksaan sediaan darah jari yang
diambil mulai pukul 20.00 waktu setempat.
3.
Bila sangat diperlukan dapat dilakukan Diethylcarbamazine provocative test.
Penegakan Diagnostik (Assessment)
Diagnosis Klinis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan
anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang identifikasi mikrofilaria.
Di daerah
endemis, bila ditemukan adanya limfedema di daerah ekstremitas disertai dengan
kelainan genital laki-laki pada penderita dengan usia lebih dari 15 tahun, bila
tidak ada sebab lain seperti trauma atau gagal jantung kongestif kemungkinan
filariasis sangat tinggi.
Diagnosis Banding
1.
Infeksi bakteri,
tromboflebitis atau trauma
dapat mengacaukan
adenolimfadenitis filariasis akut
2.
Tuberkulosis, lepra, sarkoidosis dan penyakit
sistemik granulomatous lainnya.
Komplikasi
Pembesaran organ (kaki, tangan,
skrotum atau bagian tubuh lainnya) akibat obstruksi saluran limfe.
Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)
Penatalaksanaan
Terapi filariasis bertujuan untuk
mencegah atau memperbaiki perjalanan penyakit, antara lain dengan:
1.
Memelihara kebersihan kulit.
2.
Fisioterapi kadang diperlukan pada penderita
limfedema kronis.
3.
Obat antifilaria adalah Diethyl carbamazine citrate (DEC) dan Ivermektin (obat ini
bermanfaat apabila diberikan pada fase akut yaitu ketika pasien mengalami
limfangitis).
4.
DEC dapat membunuh mikrofilaria dan cacing
dewasa. Ivermektin merupakan antimikrofilaria yang kuat, tetapi tidak memiliki
efek makrofilarisida.
5.
Dosis DEC 6 mg/kgBB, 3 dosis/hari setelah makan,
selama 12 hari, pada Tropical Pulmonary
Eosinophylia (TPE) pengobatan diberikan selama tiga minggu.
6.
Efek samping bisa terjadi sebagai reaksi
terhadap DEC atau reaksi terhadap cacing dewasa yang mati. Reaksi tubuh
terhadap protein yang dilepaskan pada saat cacing dewasa mati dapat terjadi
beberapa jam setelah pengobatan, didapat 2 bentuk yang mungkin terjadi yaitu
reaksi sistemik dan reaksi lokal:
a.
Reaksi sistemik berupa demam, sakit kepala,
nyeri badan, pusing, anoreksia, malaise, dan muntah-muntah. Reaksi sistemik
cenderung berhubungan dengan intensitas infeksi.
b.
Reaksi lokal berbentuk limfadenitis, abses, dan
transien limfedema. Reaksi lokal terjadi lebih lambat namun berlangsung lebih
lama dari reaksi sistemik.
c.
Efek samping DEC lebih berat pada penderita
onchorcerciasis, sehingga obat tersebut tidak diberikan dalam program
pengobatan masal di daerah endemis filariasis dengan ko-endemis Onchorcercia valvulus.
7.
Ivermektin diberikan dosis tunggal 150 ug/kgBB
efektif terhadap penurunan derajat mikrofilaria W.bancrofti, namun pada filariasis oleh Brugia spp. penurunan
tersebut bersifat gradual. Efek samping ivermektin sama dengan DEC,
kontraindikasi ivermektin yaitu wanita hamil dan anak kurang dari 5 tahun.
Karena tidak memiliki efek terhadap cacing dewasa, ivermektin harus diberikan
setiap 6 bulan atau 12 bulan untuk menjaga agar derajat mikrofilaremia tetap
rendah.
8.
Pemberian antibiotik dan/atau antijamur akan
mengurangi serangan berulang, sehingga mencegah terjadinya limfedema
kronis.
9.
Antihistamin dan kortikosteroid diperlukan untuk
mengatasi efek samping pengobatan. Analgetik dapat diberikan bila diperlukan.
10.
Pengobatan operatif, kadang-kadang hidrokel
kronik memerlukan tindakan operatif, demikian pula pada chyluria yang tidak
membaik dengan terapi konservatif.
Konseling dan Edukasi
Memberikan
informasi kepada pasien dan keluarganya mengenai penyakit filariasis terutama
dampak akibat penyakit dan cara penularannya. Pasien dan keluarga juga harus
memahami pencegahan dan pengendalian penyakit menular ini melalui:
1.
Pemberantasan nyamuk dewasa
2.
Pemberantasan jentik nyamuk
3.
Mencegah gigitan nyamuk
Rencana Tindak Lanjut
Setelah
pengobatan, dilakukan kontrol ulang terhadap gejala dan mikrofilaria, bila
masih terdapat gejala dan mikrofilaria pada pemeriksaan darahnya, pengobatan
dapat diulang 6 bulan kemudian.
Kriteria rujukan
Pasien dirujuk bila dibutuhkan
pengobatan operatif atau bila gejala tidak membaik dengan pengobatan
konservatif.
Peralatan
Peralatan laboratorium untuk
pemeriksaan mikrofilaria.
Prognosis
Prognosis pada
umumnya tidak mengancam jiwa. Quo ad fungsionam adalah dubia ad bonam, sedangkan quo ad sanationam adalah malam. Prognosis penyakit ini tergantung
dari:
1.
Jumlah cacing dewasa dan mikrofilaria dalam
tubuh pasien.
2.
Potensi cacing untuk berkembang biak.
3.
Kesempatan untuk infeksi ulang.
4.
Aktivitas RES.
Pada kasus-kasus dini dan sedang,
prognosis baik terutama bila pasien pindah dari daerah endemik. Pengawasan
daerah endemik tersebut dapat dilakukan dengan pemberian obat serta
pemberantasan vektornya. Pada kasus-kasus lanjut terutama dengan edema pada
tungkai, prognosis lebih buruk.
Referensi
1.
Behrman, R.E. Jenson, H.B. Kliegman, R.M. Lymphatic Filariasis (Brugria Malayi,
Brugria timori, Wuchereria Bancrofti) in Nelson Textbook of Pediatric.18thEd.2007:
1502-1503. (Behrman, et al., 2007)
2.
Rudolph Colin, D. Rudolph, A.M. Parasitic Disease in Rudolphs Pediatrics
Textbook of Pediatric. 21stEd. 2007: 1106-1108. (Rudolph, et
al., 2007)
3.
Soedarmo Sumarmo S.P.Garna, H. Sri Rezeki,
S.H.Hindra Irawan S. FilariasisdalamBuku
Ajar Infeksi & Pediatri Tropis. Ed-. Ikatan Dokter Anak Indonesia.
Jakarta, 2010: 400-407. (Sumarmo, et
al., 2010)


Comments
Post a Comment